Rabu, 12 September 2012

Moment-moment Sederhana yang (akan) Aku Rindu




“Aku anak rumahan, and I'm proud of it!”

Apakah yang paling dirindukan seorang anak perempuan ketika telah menikah dan jauh dari orang tua?
Aku masih tertawa lepas memandanginya dan anak lelaki kami yang berusia lima tahun main bola dihalaman belakang rumah kami, sembari memangku si kecil Aisyah ditanganku. Satu tahun enam bulan umurnya. Detik ini aku amat bahagia. Memiliki suami yang begitu menyayangiku dan anak-anak, dua malaikat kecil yang sehat, merajut cinta berempat dirumah mungil kami. Bukan rumah mewah, tapi lebih dari cukup untuk kami membangun keluarga Qur’ani disini.
Ya Allah, aku ingin waktu Kau hentikan dititik ini.
Tawaku masih terkembang ketika aku memandangi jam di tanganku. Pukul 08.00 pagi. Semenjak menikah dan punya anak, rutinitas harianku tak banyak berubah. Tapi ada yang begitu berbeda kini. Tawaku berubah menjadi senyum simpul saja, sementara dalam hati ada rindu yang begitu membuncah ingin kutumpahkan. Rindu pada 2 orang terpenting dalam hidupku. Bapak dan Ibu. Pandanganku menerawang kelima tahun yang lalu. Biasanya jam segini aku masih asyik memasak sambil ngobrol kesana-kemari dengan Ibu.  Atau di hari libur, jam segini mungkin aku tengah asyik mengepel ruang tangah sambil bercanda dengan Bapak yang tengah asyik memberi makan burung-burung kesayangannya.
Seringkali rindu ini tak terbendung. Namun aku hanya bisa diam-diam menangis di kamar mandi. Aku enggan menyampaikan pada suamiku bahwa aku ingin pulang. Mungkin ketika dia tidak sesibuk ini, aku pasti telah menyampaikan padanya untuk menemaniku dan anak-anak menjenguk eyang mereka. Tapi, aku harus membunuh rasa rindu itu, setidaknya untuk beberapa minggu ini. Bukan karena suamiku akan menolak mengantarkanku pulang ke rumah orang tua, tapi shift kerja suamiku baru padat-padatnya. Lelahnya sungguh tak mampu ia tutupi dari mata sayunya. Tapi, ia tak ingin kehilangan kebersamaannya dengan anak-anak pagi ini. Padahal, ia baru pulang kerja jam 06.00 pagi tadi. Seperti halnya diriku, ia pun amat menikmati kebersamaan-kebersamaan sederhana ini. Waktu seperti ini memang amat mahal buatnya dan anak-anak. Biasanya, ia harus berangkat kerja pukul 06.30 pagi ketika anak-anak masih lelap tertidur. Dan ia baru pulang pukul 08.30 atau 09.00 malam kala anak-anak juga telah lelap tertidur. Ia untuk berkali-kali harus puas menciumi mereka kala mereka masih memejamkan mata. Sesekali aku melihat matanya berkaca-kaca kala menciumi mereka. Aku mengerti betapa hatinya ingin berkata “Nak, maafkan Ayah !” atas waktu-watu yang tak bisa ia habiskan bersama mereka. Aku pun hanya bisa menenangkannya sambil meyakinkannya bahwa ini hanya sementara, sampai ia bisa settle dengan posisinya di kantor. Ia hanya tersenyum dan memelukku erat.
Moment-moment kecil ini seperti ingin kuhentikan andai aku bisa. Moment-moment kecil ini pula yang kembali mengingatkanku pada kedua orang tuaku. Moment-moment kecil dengan mereka yang dulu tak banyak kurajut karena aku banyak menghabiskan waktuku di kampus dan organisasiku. Ya. Hanya, ketika di tahun terakhirku di kampus-lah aku banyak menghabiskan waktuku di rumah. Ternyata aku belum benar-benar menyukurinya. Apa itu?
Aku adalah anak rumahan dan aku sangat bersyukur akan hal itu. Kalimat itulah yang dengan bangga aku ucapkan kepada suamiku selepas akad nikah kami, ketika banyak temanku yang anak rumahan menutupi jati dirinya sebagai anak rumahan. Ya. Anak perempuan rumahan yang tidak pernah mengenyam pengalaman hidup mandiri sebagai anak kost biasanya dikesankan sebagai anak mama yang manja dan tidak mandiri. Banyak sudah teman saya yang berkata, “Iva, ayo merantau!” atau “Iva, ayo coba ngekost!”
Tetapi aku tidak melakukan hal itu. Menjadi anak perempuan rumahan adalah hal terbaik yang terjadi padaku dan tidak ingin aku tutupi.

“Ya. Aku adalah anak perempuan rumahan, dan aku bangga akan hal itu!”

Tetapi aku harus merinci lagi kesyukuran aku itu. Betapa menemani ibu memasak, adalah sebuah nikmat yang ternyata telah memberiku banyak pelajaran tentang bagaimana memasak ini-itu, mengenal bumbu-bumbu, kebahagiaan saat sambil meracik bumbu ini itu. Ibu banyak memberikan nasihat kepadaku bagaimana menghemat penggunaan bumbu dapur, menghemat pengeluaran rumah tangga untuk memasak, mengajariku bagaimana menjadi istri yang cermat mengatur keuangan keluarga.
Betapa aku bersyukur setiap pagi bisa mencuci piring dan perabot masak sembari kesana-kemari cerita dengan Ibu. Cerita tentang kegiatanku di kampus bersama teman-teman, menceritakan satu per satu teman-teman dekatku pada beliau, juga beliau yang dengan bangganya bercerita tentang kesibukannya sebagai pengurus majlis ta’lim, kebahagiaan beliau yang menjadi orang yang dipercaya memimpin pengajian ibu-ibu disatu sisi, dan keminderan disisi lain karena masih banyak ibu-ibu lain yang lebih berpendidikan tinggi daripada Ibu, namun Ibulah yang dipercaya. Narsis-narsisan berdua tentang kiprah dan track record kami masing-masing di organisasi.
Betapa aku bersyukur dan menikmati bagaimana keponya Ibu (hihi, maaf istilah buat orang tuanya pakai kata kepo) dengan perkembangan proses ta’arufku dengan suamiku kala itu. Ingin tahunya beliau pada apa saja yang kami bicarakan dalam email-email kami. meski kadang gemes juga karena sebenarnya nggak semua harus Ibu tahu, tapi aku menikmatinya.
Betapa aku bersyukur bahwa Ibu selalu mengulang-ulang nasihat yang sama, berkali-kali sampai aku bosan mendengarnya, tapi juga menikmatinya. Bagaimana beliau mengingatkanku untuk jangan ngomong yang aneh-aneh dan seperlunya saja sama calon suami, jangan emosian, jangan ini, jangan itu sama calon suami selama proses ini. Semua karena Ibu ingin semuanya berjalan lancar, semua karena Ibu ingin aku melakukan yang terbaik.
Betapa aku bersyukur ketika aku dan Ibu berbusa-busa mengingatan Bapak untuk tidak membuang abu rokok sembarangan, hingga memaksa beliau untuk berhenti merokok.
Betapa aku bersyukur pada saat-saat mengingatkan Bapak untuk tidak minum sambil berdiri, mengingatkan Bapak untuk tidak memakai sepatu boot ketika menginjak lantai keramik di ruang tengah, mengingatkan Bapak untuk mengurangi volume musik dari tape yg diputarnya.
Betapa aku bersyukur bisa terbangun tengah malam untuk mengelus-elus pipi Bapak yang tengah sakit gigi tingkat dewa hingga beliau tertidur, baru kutinggalkan beliau.
Betapa aku bersyukur bisa berada di samping Ibu, ketika beliau berkata: Nak, Ibu baiknya pakai baju apa ya buat ke kondangan ini, buat pertemuan itu, buat pengajian ini-itu dsb? Sudah betul belum pakai jilbabnya, sudah bagus belum permak gamisnya, dsb. Ibu itu sangat detail soal penampilan. Mau itu baju gamis, pakai jilbab sampai dimana letak memasang bross harus perfect. Dan beliau selalu meminta saran padaku.
Begitu banyak hal yang harus aku syukuri.
Ibu yang selalu mengingatkan untukku jangan sungkan kalau persediaan beras dirumah habis, untuk minta kerumah. Masih ingat dulu Ibu dan Bapak pernah bilang, “Besuk ya Ibu sama Bapak tengok sambil bawakan kebutuhan ini itu buat kamu sama suamimu,” yang dengan cueknya kujawab, “Hahaha, emang kemah ya Mi, dijenguk dan dibawain ini itu.”
Baru dua bulan tidak menengok mereka, sudah begitu banyak kerinduan untuk mereka. Tapi berada jauh dari orang tua beberapa tahun ini setelah pernikahanku dan harus tinggal ikut suami sungguh membuatku menghargai moment-moment kecil namun telah menjadi moment-moment terindahku bersama kedua orang tuaku.
Dan kini, giliranku merajut cerita yang sama seperti yang terjadi padaku dulu, untuk moment-moment sederhana yang akan diingat anak-anakku. bersamanya, suami yang sangat dalam aku cinta.

Bumi Allah, 21 Februari 2017

Begitulah kiranya nanti yang terjadi padaku, juga padamu shalihat. Kini aku masih bersama 2 malaikat hidupku. Ibu dan Bapak. Dan aku akan menikmati moment-moment kecil ini untuk kukenang nanti. Ketika waktu dan ruang masih erat menyatukan kami bertiga.
Jogja, 13 September 2012
--taman pancasila, UNY

Selasa, 11 September 2012

Kau Boleh Panggil Aku Akhwat 'Sesat'



Kau ini bagaimana?
atau
Aku harus bagaimana?


Kau bilang dakwah itu gak pilih-pilih, tapi kau memandangku nyinyir saat aku dengan senang hati menerima tawaran mengisi diskusi keislaman yang pesertanya laki-laki dan perempuan, kau bilang aku kebablasan, kau bilang tak seharusnya aku menerima tawaran itu
Aku harus bagaimana?
mengisi kajian kemuslimahan? kala kaidah sadzudzdzari'ah telah lelah kita perdebatkan

Kau ini bagaimana?
Kau minta aku gunakan facebook sebagai salah satu sarana dakwah.
Kupajang foto aktivitas-aktivitas dakwah dan keseharianku di facebook, fotoku kala aksi, fotoku kala diskusi dan kajian, fotoku kala terpilih sebagai wakil dari kampus ke konverensi di luar negeri, fotoku kala bergaul sehari-hari; kau anggap aku nakal. Sementara aku hanya ingin berdiplomasi 'tanpa kata' bahwa menjadi aktivis dakwah itu gak kuno, menyenangkan, banyak pengalaman serunya. Kau bilang hapus saja foto-fotonya

Aku harus bagaimana?
memajang foto bunga-bunga atau dedaunan yang dengannya foto-fotoku tak mampu bicara dan menembus dinding hati, memikat mad'u-ku untuk tertarik menjadi aktivis dakwah, 
bahwa menjadi aktivis dakwah itu gak primitif, 
menjadi aktivis dakwah itu masih bisa asik-asikan
menjadi aktivis dakwah itu nggak kaku
menjadi aktivis dakwah itu nggak eksklusif
dengan melihatnya dari facebook yang kau bilang ia adalah salah satu sarana dakwah yang sejauh ini efektif karena hari ini eranya dunia maya
Sementara terlalu banyak mereka dijejali dengan foto-foto kegiatan hedonis anak muda yang mereka anggap itu 'biasa dan sah-sah saja'

Kau ini bagaimana?
Kau bilang belajar itu bisa sama siapa saja, dimana saja, kapan saja. Sebagaimana hadits yang tempo hari kau sampaikan bahwa hikmah itu adalah milik muslim yang hilang, dimanapun ia menemukannya, ia berhak mengambilnya.
Ku banyak bertanya dan diskusi soal siyasah, harokah, sosial-politik ke senior-senior ikhwan, kau bilang aku ganjen. Kau minta aku tanya saja sama yang akhwat. Kutanya padamu, kau tak tau. Kutanya pada yang lain, mereka tak membidangi. 
Aku banyak baca buku feminis, marxis, sosialis, kau bilang aku kebarat-baratan
Aku harus bagaimana?
mematikan rasa keingintahuanku, memuaskan diri dengan jawaban-jawaban yang tak memuaskanku, atau berpuas diri dengan bertanya pada yang tak membidanginya, asal ia wanita, BUKAN pria.
Aku harus bagaimana?
Membaca buku tazkiyatun nafs saja agar pikiranku nggak 'keblinger'?


Kau ini bagaimana?
Kau bilang performansi diri aktivis dakwah dihadapan mad'u itu harus diperhatikan.  Aku pakai baju dan jilbab cerah, kau bilang aku kemayu. Kau bilang aku sengaja memakainya untuk terlihat cantik. Kau suruh aku memakai baju se'wajar'nya.
Aku harus bagaimana?
memakai pakaian wajar sepertimu yang kadang 'balapan', kurang matching, ASAL warnanya gelap dan model/potongannya 'gak neko-neko.'

Kau ini bagaimana?
Kau suruh aku lebih banyak berinteraksi dengan teman-teman ammah,
Ku datangi teman-teman ammah dan kuajak mereka diskusi dikantin, di rumah makan, di tempat mereka menghabiskan waktu, malah kau curigai aku ikut hedonis.
sementara engkau malah bersembunyi di sarang orang-orang shalih mencari kenyamananmu sendiri. menikmati khusyu' tilawah Qur'anmu seorang diri.
Aku harus bagaimana?
mengajak mereka diskusi manhaj dakwah di masjid? atau minta mereka ikut kajian kitab? sementara yang mereka butuhkan masih setahap menertibkan sholat 5 waktu

Kau ini bagaimana?
Kau suruh aku ittiba dan tidak taklid. Ketika pilihan sikapku lain denganmu, kau bilang aku akhwat 'sesat'. Ku baca buku  seri Kebebasan Wanita dan kujadikan ia landasan sikapku, kau bilang ikuti saja "umum"nya akhwat.
Aku harus bagaimana?
Ngikut kebanyakan akhwat saja, manut kata ustadz A,B,C saja, manut murobbi saja, tanpa kau beri kesempatan aku untuk benar-benar 'mencari' kebenaran Dienku 

Kau ini bagaimana?
Kau ingatkan aku: "Khilaf atau perbedaan pendapat dalam masalah fiqih furu' (cabang) hendaknya tidak menjadi faktor pemecah belah dalam agama, tidak menyebabkan permusuhan dan tidak juga kebencian. Setiap mujtahid mendapatkan pahalanya. Sementara itu, tidak ada larangan melakukan studi ilmiah yang jujur terhadap persoalan khilafiyah dalam naungan kasih sayang dan saling membantu karena Allah untuk menuju kepada kebenaran. Semua itu tanpa melahirkan sikap egois, debat yang tercela dan fanatik buta."
Tapi, kau juga yang paling keras menyerangku kala kita berseberangan pilihan sikap dan batasan kemoderatan.
Aku harus bagaimana?
Aku bilang aku manut kamu, kamu tak mau
Aku bilang yasudah manut kita, kamu tak suka
Aku bilang, aku manut diriku, kamu mencaciku

*terinspirasi dari puisi karya Gus Muh  dengan judul Kau ini Bagaimana? Aku Harus Bagaimana?

Jogja, 11 September 2012
Iva Wulandari

Kamis, 12 Juli 2012

Diam-diam aku mengintipmu


Diam-diam aku mengintipmu
Dari ketakterejaan wujud dan rupamu
Diam-diam aku mengintipmu
Dari beberapa puzzle wajah yang kupadu jadi satu
Diam-diam aku mengintipmu
Berjinjit perlahan harap kau tak tahu
Diam-diam aku mengintipmu
Menyemu merah pipiku tanda malu
Malu menekuni baris-baris dan halaman-halaman naskah kehidupanmu
Membacanya di sepertiga malam sambil mengadukannya pada Kasihku,
Bahwa aku terjumpakan denganmu

Kita sama mengeja cinta dalam keterasingan
Menundukkan jiwa yang liar meneriakkan segala angan
Membasuh hati yang luka karena koyakan iman
Menyentuh naluri yang coba himpun dalam nafas ketaatan

Kita sama-sama mengeja rupa asa
Kita sama-sama mengeja cita
Kita sama-sama mengeja penyatuan jiwa
Dan yang pasti kita sama-sama mengeja satu kata
K.E.L.U.A.R.G.A

Semoga ada jalan untuk penyempurnaan iman dan takwa...

Jogja, 13 Juli 2012
@IvaWulandari99

*bukan taufik ismail ^^.





Selasa, 10 Juli 2012

Belajar dari Kisah Sunatan



Siapa yang masih memiliki adik kecil yang belum disunat? Atau bagi sholih+[in/at] yang punya putra, bayi atau bagi yang baru dan akan menikah, pastinya pengen dong punya anak? Ada apa dengan bahasan sunatan kali ini? Apa menariknya? Eits, makanya yuk disimak. Kali ini saya akan sedikit berbagi tentang cerita sunatan dari pengalaman historis seorang ummahat yang baru saja menyunatkan kedua putranya pada waktu yang bersamaan. InsyaAllah, sanadnya shahih, karena saya dapat langsung dari beliau. J cekidot!

Peristiwa sunat/khitan pastinya menjadi peristiwa penting nan bersejarah bagi kaum laki-laki. Peristiwa ini menjadi salah satu rangkaian proses menuju kedewasaan/aqil balighnya seorang anak. Bagi para ayah dan bunda, papa-mama, abi-ummi, peristiwa sunatan putra kecilnya menjadi unforgettable moment banget buat mereka. Banyak kisah lucu mulai dari pra, pas, dan paska sunatan. Mulai dari susahnya membujuk si anak buat mau disunat, hari H dimana orang tua jauh lebih grogi menghadapi peristiwa bersejarah putranya ini, sampai cerita-cerita lucu masa recovery si kecil paska disunat. Afwan ya, saya sebut dengan kata ‘sunat’. Karena ya demikian istilahnya. Heheh.

Cerita-cerita lucu nan menggelikan mah, sudah sering kita dengar dari om, tante, teman, adik, adiknya teman atau bahkan pembaca sekalian yg dulu juga mengalami peristiwa bersejarah ini. Nah, alhamdulillah saya berkesempatan mendapatkan cerita pengalaman seorang ummahat. Beliau punya 2 putra, sebut saja Mas dan Adek.

Yup. Kembali ke topik semula. Seperti yang kita tahu, lingkungan ternyata benar-benar membentuk pola fikir dan akhlak seorang anak. Termasuk soal sunat. Ummi menceritakan bahwa kondisi sekolah di SD IT sangat membantu beliau mengkondisikan Mas dan Adek. Kalau di sekolah umum, rata-rata anak-anak menganggap sunat sebagai sebuah peristiwa horor, menakutkan, mempertaruhkan hidup dan mati. Seorang anak yang baru saja disunat, biasanya menceritakan kesakitan dan kehororan disunat pada temannya yang belum disunat sambil sedikit jumawa menunjukkan betapa bangga dan beraninya ia sudah disunat. Alih-alih menjadi tertarik untuk disunat, mereka menjadi ketakutan dan ogah untuk disunat. Ada juga anak yang pamer ke temannya kalau dia sudah disunat. Dengan bangganya ia berkata pada temannya, “eh, aku udah disunat loh.. jagoan kan aku... kamu jangan coba-coba deh. Rasanya sakiiiiittt banget. Aku aja nangis. Kamu gak usah coba-coba ya.” Begitu kurang lebih.

Tapi, menarik apa yang terjadi di lingkungan anak-anak SD IT tempat Ummi menyekolahkan kedua putranya. Anak-anak yang sudah sunat disana, tidak ada yang menceritakan kengerian disunat pada teman-temannya. Mereka malah berlomba-lomba untuk segera disunat. Seperti halnya Mas, yang merengek minta disunat agar lebih bersih dan suci sehingga sholatnya lebih mantab. “Umi, aku mau disunat biar sholatnya jadi lebih suci, mi..”. Begitu rengeknya. Ya. Teman-teman sekolahnya yang sudah sunat biasanya akan mengabarkan pada temannya yang lain bahwa ia sudah sunat, dan itu tandanya ia lebih bersih dan lebih suci ketika sholat. Alhasil, bagi mereka yang belum sunat merasa tengsin kalau-kalau sholatnya dalam keadaan kotor, sehingga terbayang sholatnya tidak diterima Allah. Subhanallah. Padahal mereka belum dikenakan hukum wajib sholat, mengingat mereka yang belum baligh. Sekecil itu mereka sudah ditanamkan betapa pentingnya memperhatikan kebersihan dan kesucian diri saat sholat. Sehingga motivasi mereka untuk sunat pun bukan semata jumawa menunjukkan mereka siap mendewasa, tetapi agar sholat mereka lebih sempurna di mata Allah. Subhanallah yah...

Bagi ibu-ibu, moment ini menjadi moment yang cukup menengangkan dan bikin deg-degan gak tega pada si kecil. Ummi juga sempat terbayang demikian. Ada cerita dari putra teman beliau yang sunat mengeluh sakitnya disunat pada umminya. Si anak termotivasi pada tayangan kartun Upin Ipin pada salah satu episode yang mengatakan kalau sunat itu tidak sakit. Bulatlah tekat si anak untuk segera sunat.  Hasilnya, ia berkata “Umiiii...kata Upin Ipin sunat itu gak sakit, kok ternyata sakit siiih, mii... aku gak mau disunat lagi,” sambil terus menangis sesaat setelah ia disunat. Kebayang enggak, apa yang bakal kita jawab, kalau ada di posisi orang tuanya?

Tibalah hari H Mas dan Adek disunat. Karena Ummi sedang ngisi liqo’, mereka diantar oleh Abi ke tempat dokter yang akan menyunat mereka, yang kebetulan adalah teman semasa SMA ummi mereka. Kebetulan antrean cukup panjang dan waktu sudah menunjukkan saatnya shalat magrib. Mereka pun izin pada dokter, “Dok, aku sholat dulu ya. Biar nanti sunatnya enggak sakit.” Begitulah. Si kakak benar-benar tidak menangis saat disunat, sementara si adik menangis sesaat.

Cerita berlanjut. Pada umumnya orang tua yang baru saja menyunatkan si anak, biasanya keluarga akan menggelar hajatan berupa syukuran dan walimatul khitan. Tapi tidak bagi keluarga ummi. Bukan tak mau bersyukur. Tetap bersyukur. Tetapi berhubung ini pun tidak ada tuntunannya dari Rasulullah, Ummi tidak menyelenggarakan acara walimatul khitan. Beberapa hari setelah dikhitan, adik berkata pada Ummi, “Mi, katanya kalau habis disunat dapat uang banyak mi. Dapat hadiah yang banyak juga. Aku mana mi? Masa’ aku nggak dapat uang sama hadiah sih mi. Kan aku juga sakitnya sama lo, mi. Aku masa’ gak dapat uang?” (yang dimaksud adalah uang dari para tamu yang datang untuk mengucapkan selamat, nyumbang istilah orang Jawa). Abi pun berkata pada adek, “Kan udah diajarin di sekolah, kalau buat orang Islam itu, tangan di atas itu lebih baik daripada tangan di bawah. Memberi kepada orang lain itu lebih baik daripada diberi.”
Keesokan harinya, mereka diajak oleh Abi untuk menengok celengan mereka. Kebetulan mereka berdua mempunyai kebiasaan nabung di celengan dan saat itu celengan mereka sudah cukup berat. Mereka pun memecah celengan mereka. Alhamdulillah uang kertasnya ada banyak. Uang receh pun tak kalah banyak terkumpul. Mereka sendirikan uang kertasnya, sementara uang recehnya mereka kumpulkan menjadi bagian-bagian yang mereka masukkan ke kantong-kantong plastik kecil.

Lepas itu mereka diajak Abi untuk berpakaian rapi. Diajaknya mereka ke panti asuhan Sayap Ibu. Panti asuhan untuk bayi dan anak cacat dan terlantar/dibuang oleh orang tuanya. Mereka penuh haru mengunjungi temannya yang kurang beruntung dengan membawa makanan dan uang hasil tabungan mereka yang sudah ditambahkan dengan uang dari Abi, dan diberikanlah kepada teman-teman baru mereka di panti asuhan tersebut. "Kasihan ya Bi. Udah gak punya tangan, gak punya orang tua lagi." Hari itu mereka belajar betapa beruntungnya mereka masih memiliki fisik yang lengkap dan orang tua yang menyayangi mereka. Mereka melihat teman-temannya bahagia dengan kedatangan mereka ke panti asuhan tersebut. “Benar juga ya Bi. Ternyata memberi itu jauh lebih menyenangkan,” kata si kakak.

Kemudian, sepulang dari panti asuhan, Abi mengajak mereka memutar ke seputaran traffic ligh di beberapa titik yang mereka lewati. Uang-uang receh yang sudah mereka bagi ke kantong-kantong plastik kecil, mereka bagikan kepada pengemis dan peminta-minta di jalan-jalan yang mereka lalui. Ada yang hanya mengucapkan terima kasih, ada pula yang panjang lebar membalas pemberian mereka dengan untaian doa. Mereka pun mengamini dengan semangat, “Aamiin..aamiiin..aamiiin.”
Kakak pun berkata, “Ternyata jauh lebih bahagia, ya, Mi, bisa lihat orang yang kita beri seneng dengan pemberian kita.”

Begitulah. Mas dan Adik dibelajarkan tentang lebih utamanya memberi daripada menerima. Mereka pun tak lagi mempertanyakan uang dan hadiah yang tak mereka terima sebagaimana lazimnya anak-anak lain yang baru saja sunat yang mendapatkan uang melimpah dan hadiah-hadiah.

Satu lagi, kenapa Ummi tidak menggelar hajatan, agar beliau dan Abi bisa berfokus menanamkan pada Mas dan Adek tentang kewajiban-kewajiban yang dikenakan pada mereka ketika menyandang status baligh (meski mereka belum mimpi). Kebanyakan, anak-anak yang disunat, dimanjakan, dan malah tidak terperhatikan karena orang tua berfokus menerima tamu. Padahal, paska sunat, menjadi waktu yang penting untuk menanamkan pada anak tentang konsekuensi diri mereka sebagai muslim yang menjemput baligh. Ya. Tentang pentingnya menjaga sholat. Orang tua kebanyakan, gagal menanamkan pentingnya untuk mulai saat itu bagi si anak untuk tidak meninggalkan sholat. Alhasil, dengan kesibukan orang tua menerima tamu, dan mungkin si anak yang belum pulih dari sakitnya disunat, menjadikan kondisi ini menjadi suatu pemakluman yang bisa mereka tanamkan pada si anak nanti-nanti.

Seusai anak-anak disunat, Abi tak lupa menyampaikan pada Mas dan Adek, “Sekarang sudah disunat, berarti sholatnya harus lebih rajin, ya,..”. Dan pagi-pagi setelah semalam disunat, Abi pun membangunkan kedua bersaudara ini untuk sholat. Mereka pun bergegas mengambil air wudhu dan melaksanakan sholat subuh berjamaah.

Begitulah sepenggal pelajaran yang bisa saya dan sholih+[in/at] bisa ambil ibrohnya. Al ummu madrosatul ‘ula. Ibu itu adalah madrasah pertama bagi sebuah generasi. Begitu pula ayah. Nah, bagi Abi dan Ummi muda, yang putranya masih bayi/balita, jangan lupa persiapkan ini ya, Mi. Untuk Ikhwahfillah yang baru membina keluarga atau yang akan membina keluarga, calon Abi dan Ummi, jangan lupa bekali diri kita sedari kini tentang pendidikan anak/Tarbiyatul Aulat.

 Jangan merasa masih lama dan belum kefikiran, sholih+[in/at]. Persiapkan dari sekarang. Karena, begitu antum sekalian punya putra, taraf aplikasilah yang harus antum lakukan. Belajar dari sekarang. Daripada terus-terusan hati galau memikirkan si dia yang tak kunjung datang, mending siapkan diri dengan persiapan-persiapan bermanfaat seperti belajar bagaimana mendidik dan membesarkan anak, merawat dan memandikan bayi, menanamkan akhlak dan nilai agama pada anak usia dini. Banyak baca, banyak bertanya pada yang sudah lebih dulu mengalami. Betul??? Buat anak kok coba-coba.. #eh. Iklan.

Wallahu’alam. Semoga menjadi teladan dan pengingat bagi saya dan antum sekalian. Akhir kata, semoga kita dikaruniai pasangan dan anak yang menyejukkan pandangan dan menjadikan kita sebaik imam bagi orang yang bertaqwa. 

Robbana hablana min azwajina wa zurriyyatina qurrata a'yuniw waj'alna lil-muttaqina imama. Aaamiin.

Jogja, 10 Juli 2012
Iva Wulandari

Sabtu, 07 Juli 2012

Allah,, aku kecewa. aku sendiri. aku nggak kuat !!!


“Ya Allah...saya nggak kuat menghadapi semua ini... Biarkan saya mundur dari jalan ini..”
Atau
“Akh/Ukh, saya mau keluar dari jamaah ini. Saya kecewa. Saya merasa ditinggalkan oleh semua orang yang mendukung saya, bahkan saya dibiarkan sendiri oleh orang-orang yang memberikan saya kepercayaan memegang amanah saya ini. Ketika saya susah begini, mereka dimana? Lebih baik saya mundur saja.”

Atau merasa menjadi orang yang paling berjasa dan telah melakukan hal yang banyak sehingga terbersit keinginan untuk pensiun dini dari dakwah?

“Afwan. Ukh/Akh, saya mau pamit. Saya mau beralih ke ladang jihad yang lain. Saya mau Jihad Akademik. Saya mau konsen skripsi. Saya mau lulus kuliah segera. Sekarang saatnya kalian. Saya sudah lelah banyak makan asam garamnya berjuang di jalan dakwah.  Saling Mendoakan. Semoga istiqomah. Cemungud eaa. Dadaaah...”
 *tepok jidat

Pernahkah kita mengalami hal tersebut? Sekedar terbersit di fikiran menjadi seorang yang paling malang, paling sial di dalam jamaah? Merasa ditinggalkan dan dibiarkan sendiri? Atau minimal pernahkan anda menerima keluhan dan aduan semacam ini dari galauers (yang bergalauan di jalan dakwah)? Bahkan dari yang berguguran di jalan dakwah?

Lintasan memori saya kembali flash back ke belakang, ketika saya diamanahi sebagai Ketua KPU (Komisi Pemilihan Umum) Pemilihan Umum Mahasiswa sebuah fakultas di kampus saya. Kala itu, kondisi sedang serba sulit. Ada beberapa keputusan KPU yang kontroversial yang saya keluarkan. Saya pun dituding telah berpihak kepada salah satu pasangan calon. Hanya karena saya jilbaber. Saya pun dituduh sebagai antek KAMMI, organisasi ekstra Kampus terbesar di UNY, padahal kala itu saya belum tau apa itu KAMMI, apalagi sebagai anggota KAMMI.  

Barangkali, pengalaman menjadi Ketua KPU kala itu, menjadi pengalaman terheroik dan teristimewa di sepanjang hidup saya. Bagaimana tidak? Tak pernah saya begitu takutnya kalau-kalau saya dibuntuti orang kala pulang dari kampus, bagaimana saya menerima SMS-SMS teror, ancaman dan cacian. Makian. Dari orang-orang yang tentunya tidak suka dengan saya yang dicap berpihak kala itu. Sulit, karena teman-teman terbaik saya satu gugus (kelompok) semasa ospek menjadi orang yang paling tidak suka dengan saya, dengan alasan saya adalah KAMMI. Nonsense, kata saya. Kala itu, KAMMI apa, saja, saya tidak tahu. Jelas tidak tahu, karena posisi saya kala itu adalah newcomer di organisasi kampus. Sebelumnya saya aktif di organisasi Dakwah Sekolah. Tapi begitulah geliat mahasiswa di kampus. Mudah menerima berita simpang siur dan mudah diadu domba.

Yang paling istimewa adalah saya beserta KPU yang saya pimpin didemo sekumpulan mahasiswa yang tidak suka dengan keputusan KPU kala itu. Ya. Saya didemo. Kala itu saya masih menjadi anak hijau dalam pergerakan mahasiswa kampus beserta konflik-konflik di dalamnya. Masih ingat kala itu saya ditelpon langsung oleh Pak Dekan untuk menghadap beliau di kantor beliau sementara di bawah, puluhan mahasiswa berdemo ingin bertemu dengan pak dekan sambil meneriakkan kata-kata makian pada KPU. Saya masih tak percaya. Oh My God, saya di demo???

Atas inisiatif seorang kakak, saya dan beberapa teman diajaknya ke rumah seorang aktivis senior. Beliau hendak memberikan support pada kami, saya khususnya, yang keesokan paginya harus menghadapi wajah-wajah penuh luapan emosi, makian dan cacian dalam sidang terbuka KPU dimana saya diberondong berbagai pertanyaan, tuduhan, cacian, tatapan sadis dsb. Geli-geli bagaimana begitu, saya mengingatnya. Saya masih ingat, kala itu saya berhadapan dengan mahasiswa-mahasiswa angkatan tua, sementara kala itu saya masih berada di tahun kedua saya di kampus. Bagaimana mereka bertanya dengan wajah merah menahan marah, sementara saya menjawab semua dengan tenang dan dengan senyuman. Kenapa saya sebegitu tenang kala itu? Inilah rahasianya.

Ini tak lepas dari nasihat yang malamnya saya dapat dari seorang aktivis senior. Beliau mengatakan, “Va, yang kamu hadapi itu masih manusia. Bukan iblis. Manusia itu hanya hidup sementara. Besuk juga semua bakal mati. Iblis aja yang nggak bisa mati sebelum akhir zaman, sudah ditundukkan atas manusia. Ngapain takut sama manusia yang sama-sama akan mati. Nggak usah takut. Kemarin didemo katanya? Gak usah khawatir. Kamu kerjaannya ndemo orang, di demo kok takut? Ya biasa saja. Pro-kontra itu biasa. Kalau kamu yakin dengan apa yang kamu putuskan, hadapi saja.”

Bagai sihir, kata-kata itu menyemangati saya, tentunya dengan support dari teman-teman saya kala itu yang sangat memberikan saya kekuatan untuk menghadapi hari pembantaian saya kala itu.
Kembali ke pembahasan awal. Setiap orang pasti pernah merasakan masa dimana suatu ketika menjadi masa terberatnya. Entah masa terberat dalam memikul amanah, merasa dikecewakan oleh jamaah, ditinggalkan, atau tidak kuat menjalani cobaan hidup lainnya. Seringkali ingin lari, menenggelamkan diri, keluar dari jalan dakwah, atau perasaan ingin bunuh diri. Galau berkepanjangan. Mungkin saya pun demikian.

Bagi Anda yang tengah dilanda kegalauan semacam ini, atau bagi Anda yang tengah dicurhati teman yang merasa bebannya lah yang terberat, yuk kita simak bareng-bareng cerita berikut.
Saya masih ingat paska mendapat ‘pukulan’ bertubi-tubi selama pemilwa, seorang senior berkata, “Jangan merasa antum itu adalah umat yang terpilih. Umat yang istimewa yang mendapatkan cobaan luar biasa berat. Jangan sekali-kali itu terbersit dalam fikiran antum kalau hanya akan menyombongkan diri antum. Mengkerdilkan diri antum. Itu biasa saja. Masih banyak yang cobaannya lebih berat dari itu. Itu nggak ada apa-apanya sama apa yang pernah dialami Musa.”

Ya. Ada sebuah nasihat  yang masih sangat menempel di ingatan saya.  Jangankan Anda yang sering galau, yang bergalauan di jalan dakwah. Rasulullah saja, pernah juga ‘galau’ ketika beliau menerima penolakan bertubi-tubi dalam mendakwahkan Islam di Makkah. Tapi, apa yang Allah sampaikan pada Rasulullah?

Kalau kita menerima curhatan dan keluhan dari teman yang nyaris putus asa, biasanya kan yang kita lakukan adalah menyemangati, membesarkan hatinya dan kita bilang : Yang sabar ya,,, saya tahu cobaan antm sangat berat,  bla..bla...bla..

Tapi, tidak demikian yang Allah sampaikan pada Rasulullah. Allah berfirman dalam QS. Al-Baqarah 214:

"apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk janah , padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan,serta digoncangkan (dengan macam-macam cobaan) sehingga berkatalah rosul dan orang-orang yang beriman bersamanya: 'Bilakah datangnya pertolongan Allah?' Ingatlah,sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat."

Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa turunnya ayat tersebut bersangkutan dengan peristiwa perang Ahzab. Ketika itu Nabi saw mendapat berbagai kesulitan yang sangat hebat  dan kepunangan musuh yang sangat ketat.

Asbabun nuzul: Qatadah berkata, “Ayat ini turun saat Perang Khandaq/Ahzab. Ketika Rasulullah saw menghadapi cobaan, yaitu dikepung, dan diserang oleh kaum kafir Quraisy” (H.R. Abdurrazzaq. Lihat Ibnu Katsir: 1/432)

Begitulah cara Allah menasihati Rasulullah dengan kisah-kisah terdahulu. Ketika Rasulullah ‘galau’ karena tengah menghadapi berbagai kesulitan hebat, lihatlah bagaimana cara Allah menguatkan dan meneguhkan beliau.

 Lagi. Kita akan belajar bagaimana menghadapi manusia-manusia galau:

Dari Khabbaab bin Al-Aratt, ia berkata; “Kami pernah mengadu kepada Rasulullah SAW, ketika itu beliau sedang berada di bawah naungan Ka’bah dengan berbantalkan kain selimut beliau. Kami berkata, “Apakah tidak sebaiknya engkau memohonkan pertolongan buat kami ?. Apakah tidak sebaiknya engkau berdo’a memohon kepada Allah untuk kami ?”.

Beliau bersabda, “Dahulu ada seorang laki-laki dari ummat sebelum kalian, dibuatkan lubang di tanah untuknya lalu ia dimasukkan di dalamnya, lalu diambilkan gergaji, kemudian gergaji itu diletakkan di kepalanya lalu ia dibelah menjadi dua, namun hal itu tidak menghalanginya dari agamanya. Dan adalagi yang disisir dengan sisir dari besi mengenai tulang dan urat di bawah dagingnya, namun hal itu tidak menghalanginya dari agamanya. Demi Allah, sungguh urusan (Islam) ini akan sempurna sehingga orang yang mengendarai unta berjalan dari Shan’aa’ ke Hadlramaut, tidak ada yang ditakutinya melainkan Allah, atau terhadap serigala atas kambing-kambingnya, akan tetapi kalian sangat tergesa-gesa”. [HR. Bukhari juz 4, hal. 179]


Nah loh. Begitulah Rasulullah meneguhkan galauwers di jalan dakwah. Bukan menghibur mereka dengan kata-kata pemakluman yang membuat mereka tambah cengeng, minimalis dan loyo. Tapi mereka dibenturkan dengan kisah-kisah terdahulu yang jauh lebih heroik dari apa yang mereka alami. Jauh lebih mengenaskan dari apa yang mereka alami.


 ‘Yang kamu hadapi itu belum seberapa dibanding dengan rasul dan nabi sebelum kamu. Yang kamu dakwahi itu masih mad’u yang masih bisa mendengar. Coba lihat Musa. Ia mendakwahi umat paling ngeyel di dunia. Kaum Bani Israil. Lihat Musa. Yang ia dakwahi adalah Fir’aun, manusia yang ngaku-ngaku dirinya sebagai Tuhan. Tapi apa Musa meninggalkan umatnya dan menyerah mendakwahi Fir’aun? Tidak. Ia bahkan sampai mengejarnya. (Lihat QS. Thaha)

Lihat pula Nuh. Ia ditinggalkan oleh keluarganya. Oleh anaknya yang tidak percaya pada kebenaran yang dibawanya. Kamu masih memiliki keluarga  dan sahabat yang senantiasa mendukung dakwahmu. Lihat pula Luth. Ia ditinggalkan oleh kaumnya.’

Begitulah. Apa yang kita hadapi sejatinya belum ada apa-apanya dengan apa yang dialami generasi terdahulu. Jangan pernah merasa menjadi yang paling menderita di jalan ini, karena masih banyak yang jauh lebih menderita dalam memperjuangkan dakwah dan keIslamannya. Jangan pernah merasa menjadi orang yang paling dikecewakan dalam barisan ini, karena masih banyak yang mempunyai ribuan alasan untuk kecewa, tapi tetap bertahan meski hanya dengan satu alasan untuk bertahan. Jangan pernah berputus asa dari rahmat Allah, meski ujian tak henti menghampiri kita. Jangan pernah merasa sendiri karena masih ada Allah bersama kita. Laa tahzan. Innallaha ma’ana.

Jogja, 8 Juli 2012 : 00.33 am
@iva wulandari/IvaWulandari99


Jumat, 23 Maret 2012

‘Black Revolution’: Positioning Indonesia’s Energy Sovereignty

The public has erupted in anger over the past week, an outcry that culminated on public critical blasphemy for Susilo Bambang Yudhoyono’s speech as the reaction of terror addressed for him in the moment of fuel hike, at the terminator of what people considered a rare benefit from a government cronically mired in corruption and otherwise unable to provide basic livelihood like electricity, health care and education.

Protest held signs with slogans like “Remove Corruption, Not Subsidies” are burned tires in the capital city, Jakarta, as well as in Yogyakarta, Surabaya and other cities.

The government pays subsidy to middlemen, so that the fuel can then be sold to the public at low rates.

The fuel subsidy is one of the few divindends average Indonesians have received from immense oil wealth that has benefited a tiny minority of the population in the country’s more than 66 years of independence.

Students, especially university students, may be relied on to play the role of kicking off nationwide to protest against the government’s plan to increase subsidized-fuel prices on April 1 as well as what the country’s biggest opposition political party, the Indonesian Democratic Party (PDI-P) and some parties did.

The government has faced growing opposition against its plan to make an early-revision to the 2012 state budget to accomote its plan to increase the subsidized-fuel price by Rp 1,500 (16 US cents) per liter to Rp 6,000.

Indonesia has a thousand of natural resources. Unfortunately, this country failed to taste pleasure being the owner. The so-called “black gold” is terms for natural resources in the form of fuel, that usually we consume in the form of oil fuel, whether subsidy or non-subsidy.

Oil subsidy is worthy for middlemen and lowmen. However the government states that they are not the major consumers. We all know, public will accept the big effect of fuel price hike. Government failed to manage nation’s assets of energy and failed to read global politic and economy, and even dictated by global market.

So, black (gold) revolution is action to demand government so that country able to manage energy in optimal and independent way. Indonesia, the rich natural resources country, has to sprawl to be the net-importer country as the inability of the government to manage it. However, we know that our oil resources is in generous supply, besides the having of oil resouces, earth heat or geothermal, and many more which are still available. Indonesia threatened killed in the own country. As the conclution of the crisis, Indonesia faces emergency energy.

Joseph E. Stiglitz in Making Globalization Work (2006) illustrates natural resources which change to be resource curse just like someone finds “diamond” in the center of the room. The feeling of overwhelming energy coopted imagination, creativity an inovation so he can manage what he has. Unable to add value to make it more valuable and exclusive.

Indonesians can’t enjoy their nation’s oil resources . In other perspective, Ian Bremmer (2011) blames state capitalism as the caused. Because country is managed as well as a corporation, all policy is patroned on the bisnis motive. Loss and profit become the basic of the adoption of the policy. Natural resources is seen as comodity. Black revolusion becomes the action of kicking off nationwide to protest against the government’s plan to increase subsidized-fuel prices. Black revolution is only way to end the unfair plan of fuel hike.

[writer is analyst at the Center Study and Advocacy of Education, Yogyakarta and Researcher at the Center of Political Studies, Yogyakarta State University, Indonesia ]

Minggu, 02 November 2008

alhamdulillah...ini adalah awal mula perjuangan ana di dunia maya....